TRAVELPACKER ALA MISS CHIC


Dress Miss Chic by koru_hijabwear

JAKARTA!!!
Wisata Edukasi!!!
Wisata Kuliner!!!
Yach, destinasi Miss Chic kali ini ke Ibu Kota Negara yaitu Jakarta. Kata orang Jakarta adalah kota dengan dua sisi. Jakarta adalah kota metropolitan di Indonesia yang sedang maju pesat, dengan banyaknya perkembangan bisnis, industri, dan juga pembangunan. Namun bagi saya Jakarta sebagai kota yang keras karena butuh pertarungan untuk bertahan di kota itu. Kota yang bisa mengubah seseorang dalam sekejap. Kota yang memberikan mimpi sekaligus meleburkan mimpi. Mungkin karena itu Miss Chic enggan ketika berlama-lama di Jakarta.
Kami memutuskan ke Jakarta bukan tanpa sebab karena kami ingin mengikuti workshop public speaking yang diajarkan langsung oleh Miss Merry Riana. Sosok perempuan muda dan sangat menginspirasi dengan jargon “Mimpi Sejuta Dollar”. Kami sering ke Jakarta baik untuk urusan edukasi atau berlibur menemui sanak saudara. Perjalanan biasanya ke Jakarta sudah ada yang mengatur jadwal dan fasilitas tersedia baik dari kantor atau dari saudara, tapi kali ini kami membuatnya berbeda. Travelpacker! Seperti backpacker tetapi menggunakan travelbag. Nggak ribet? Sejauh ini nggak ribet sama sekali justru nggak capek tingga dorong aja, nggak perlu angkat beban.
Travelpacker ala Miss Chic
Berangkat ke Jakarta kami memutuskan memakai jasa transportasi Bus Malam seharga Rp. 260.000/orang dengan fasilitas makan 2x, charger hp, toilet, AC, bantal dan selimut. Oia, untuk pilihan transportasi ini disarankan buat kamu yang melakukan perjalanan santai penuh kesabaran karena butuh waktu maksimal 18 jam dari Terminal Bungurasih sampai ke Kantor Bus Malam yang kami tumpangi di jalan Ra. Kartini Jakarta Selatan. Karena tujuan kami di acara public speaking yakni di Gadjah Mada Plaza Jakarta Pusat, dari RA. Kartini kami naik bemo seharga Rp. 3500 ke halte busway Pondok Pinang. Kami membeli tiket busway seharga Rp. 40.000 berbentuk card untuk menuju halte Harmoni waktu yang kami butuhkan kira-kira 1,5 jam karena melewati 26 halte. Sampai di Harmoni kami oper ke busway jurusan kota turun di halte Sawah Besar. 
 Miss Chic ditemani Giordani Gold Body Cream by Oriflame
Sampailah kami di Gadjah Mada Plaza untuk mengikuti workshop sampai jam 21.00 WIB, sangat menyenangkan dan seru. Miss Merry Riana mengajarkan langsung tanpa henti teknik-teknik public speaking. Mengenai materi lengkapnya menyusul ya di tulisan Miss Chic selanjutnya. Setelah dari acara kami pulang ke hotel yang telah kami pesan dua hari sebelum acara tepatnya di Red Planet Hotel yang terletak di Pasar Baru. Transportasi kali ini kami memilih taksi dari Gdjah Mada Plaza ke hotel cukup bayar Rp. 30.000. Red Planet Hotel pelayanannya dan suasananya sangat memuaskan dengan lowbudget Rp. 350.000 dapat double bed dan breakfast untuk dua orang, kamar mandi yang bersih ditambah fasilitas air hangat. Malamnya kami merasa sangat lapar, mau keluar kamar uda males banget, akhirnya kami memutuskan untuk pesan melalui Gojek nasi goreng kambing kebon sirih sebanyak 1.5 porsi seharga Rp. 51.000 ditambah gojek Rp. 10.000.
Hari selanjutnya kami sepakat untuk bangun pagi karena sore harinya kami harus kembali ke Surabaya. Kami memutuskan untuk wisata edukasi ke Museum Bank Indonesia (BI) dan ke Museum Fatahillah. Dari Red Planet Hotel kami naik bemo di seberang jalan hotel tempat kami menginap cukup dengan Rp. 6000/orang sampai di Museum BI, tiket masuk di Museum BI Rp. 5000/orang. Museum BI sangat bagus dari segi bangunan, koleksi dan pelayanannya. Tak terasa satu jam kami berputar-putar mengikuti perkembangan sejarah asal mula mata uang, sejarah mata uang di Indonesia dan perkembangan mata uang di Indonesia. Setelah puas di Museum BI kami lanjutkan perjalanan ke Museum Fatahillah untuk berkeliling. Cuaca yang panas membuat kita menepi ke Café Batavia 1805, kami memilih area no smoking yang terletak di lantai 2. Café dengan gaya klasik khas western tak ayal ada beberapa bule yang sedang menikmati makanan atau minumannya. Mengenai harga makanan dan minuman di Café Batavia antara Rp. 50.000 s/d 300.000 ditambah Service CHG dan Tax 10% dan untuk rasa standart, tidak terlalu pas dimulut saya. 
Metamorfosa Logo Bank Indonesia
Setelah puas kami melanjutkan ke ITC Mangga Dua sempat bingung menuju kesana menggunakan transportasi antara busway, bemo, taksi atau bajaj. Karena kami penasaran merasakan sensasi naik bajaj akhirnya kami memilih transportasi khas Jakarta tersebut. Sangat ramah dikantong cukup dengan Rp. 20.000 sampai di ITC Mangga Dua. Sampai di ITC Mangga Dua kami membeli oleh-oleh kaos khas Jakarta Rp. 100.000 dapat 6 kaos. Suasana di ITC Mangga Dua sangat ramai, mayoritas dipenuhi oleh orang-orang Chinese. Kami menghabiskan waktu selama dua jam untuk mengelilingi ITC Mangga Dua. 
Cafe Batavia 1805

Pukul 13.30 WIB kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta dengan menggunakan taksi berwarna kuning karena gratis tol, mengenai kenyamanan dan keamanan taksi sangat puas. Dari ITC Mangga Dua ke bandara menghabiskan Rp. 110.000. Suasana menuju Bandara sepi dan lancar untuk ukuran lalu lintas Jakarta, usut punya usut karena hari itu adalah Minggu, tidak seramai hari biasanya. Sehingga perkiraan waktu sampai di Bandara dua jam menjadi lebih cepat hanya setengah jam saja. Kami memilih menaiki pesawat yang identik dengan gambar Raja Hutan J pesan melalui eticket seharga Rp. 463.700. Alhamdulillah perjalanan ke Jakarta sangat menyenangkan dengan lowbudget Travelpacker ala Miss Chic. 



 

KUE ULTAH I Miss Chic

Kali ini destinasi kuliner miss chic by online karena dalam rangka mau kasi surprise ke orang yang miss chic sayang yang lagi ultah di bulan Desember :). Karena, rencana kasi surprise di tempat kantor yaitu di Pasuruan jadi miss chic ngandelin banget info mbah google, setelah searching akhirnya pilihan jatuh ke Dapur Yuri - online cake shop beralamat di Kavlingan Baru-Gunung Gangsir, Beji Pasuruan Jawa Timur, phone 081334839411.  sempet ragu aja apa kuenya ntar bagus ya, secara harganya sebelas dua belas ama bread*alk, tapi buat ukuran lebih besar Dapur Yuri. Ternyata nggak mengecewakan baik packaging, rasa dan tampilan menggugah selera. Berikut fotonya. :)

Tampilan kue ulang tahun by Dapur Yuri
Selain itu owner  Dapur Yuri juga ramah banget, mau nganterin langsung kue ultah sesuai dengan alamat yang kita kasi. So, buat kamu yang berdomisili atau mau kasi kejutan manis dengan kue cantik ini tinggal  di Pasuruan hubungi aja Dapur Yuri. 
Tampilan kue ulang tahun by Dapur Yuri


Dapur Yuri-Online Cake Shop
Price start from IDR 100 - IDR 250
Delivery IDR 25 
Area : Pasuruan 

Kooffee+Roof Bar I Miss Chic




Bingung mau mencari destinasi romantis plus ramah dikantong dengan pasangan?. Nah, destinasi Miss Chic kali ini bisa menjadi pilihan kamu. Kali ini kami memilih Kooffee+Roof Bar Surabaya yang terletak lantai 11 G Suites Hotel Surabaya. Letaknya di lantai 11 menyajikan city view yang indah, lebih-lebih ketika malam hari. Kooffee+Roof Bar menawarkan hidangan Asian dan Westren Delight dengan pilihan menu breakfast, main course hingga dessert, sebagai pendampingnya disajikan berbagai minuman yang menggugah selera. Harga berkisar dari Rp. 25.000+++.

Kami datang saat tempat ini belum buka pada hari itu, kepagian hehehe. Tetapi kami nggak sendiri ada beberapa anak-anak muda yang juga menunggu Kooffee+Roof Bar buka. Selagi menunggu buka, kami habiskan waktu dengan mengabadikan tiap sudut café tersebut karena kami nggak ingin melewatkan interiornya unik, hasil karya dari seniman-seniman muda terbaik di Surabaya. 

Kooffee+ Roof Bar Surabaya
Lt. 11 Hotel G-Suites Surabaya
Jln. Raya Gubeng No. 43 Surabaya
Senin - Jumat 14.00-22.00
Sabtu - Minggu 12.00-23.00

Wifi-Zone

Budget: 25.000-100.000/person


Selamat Hari Kelahiran



Bukan tanpa alasan kelahiran untukmu lelakiku diletakkan olehNYA dipenghujung tahun, Kiranya itulah sebuah keberuntungan untuk merefleksikan segala hal yang telah dilalui selama setahun ini, sekaligus saat yang paling manis untuk menuliskan harapan-harapan indah ditahun depan.

Segala do'a terbaik untukmu lelakiku, selalu diselimuti bahagia dalam langkahmu, direstui olehNYA, diberikan kesehatan selalu.

Semoga ditahun depan antara kamu dan aku tidak lagi berjarak istilahnya aku dan kamu, melainkan telah menjadi kita. Kita yang telah mengikat janji suci, melangkah bersama saling menatap dan bergandengan tangan, diliputi selalu dengan balon-balon keceriaan. Amin3x. 




With Love



28 Desember 2015

(setidaknya) KAMI (telah) BERBUAT



“Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan JUJUR dan TOTAL, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri-satu-satunya hal yang membuat kita ada.” (Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara). Ya, menulis adalah sebuah proses kejujuran seperti yang diungkapkan oleh Seno Gumira Ajidarma. Begitupun pada saat kami menuliskan buku Menuju Wujud Surabaya Kota Literasi. Kami merasa sebagai orang yang sangat beruntung karena sebagai generasi muda menjadi saksi mata proses perjalanan Perpustakaan Umum Kota Surabaya saat memberi kemilau dalam pemaknaannya. Tetapi layaknya peribahasa “Semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya” inilah yang kemudian kami rasakan. Puncaknya pada saat kami membaca sebuah komentar di sosial media (facebook) yang dilontarkan oleh seorang guru. Kami memahami bahwa lontaran komentar tersebut sejatinya adalah sebuah informasi pada kami sebagai bahan evaluasi. Beliau menuliskan bahwa “Di kota Surabaya ada SD rujukan yang akan dikuatkan dengan konten literasi. Agaknya kondisi literasi di SD tsb memprihatinkan saat tim Kemendikbud kemarin visitasi”. Akan tetapi yang mengusik benak kami adalah beliau berperan sebagai penerima informasi agaknya berhati-hati untuk menyematkan kata “Memprihatinkan”. Batin kami terusik, begitupun batin teman-teman seperjuangan kami yang kami menyebutnya sebagai Pejuang Literasi ketika apa yang selama ini kami lakukan dan perjuangkan begitu mudahnya mendapatkan komentar memprihatinkan hanya dari sebuah informasi sepihak. Begitulah kiranya sebuah informasi tidak hanya bertujuan memberikan berita kepada orang yang mulanya tidak tahu sehingga orang tersebut mengerti atau memahaminya juga mampu digunakan sebagai alat ‘pencitraan’ sekaligus ‘menjatuhkan’.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami pada beliau melalui tulisan sederhana inilah kami sebagai seorang Petugas Teknis Pengelola Perpustakaan yang merasa beruntung karena menjadi saksi mata proses perjalanan Surabaya mencanangkan sebagai Surabaya Kota Literasi mengajak beliau untuk menjelajahi kondisi SD tersebut melalui tulisan karena seperti peribahasa “Tak kenal maka tak sayang”. SDN Bubutan IV adalah sebuah sekolah dasar negeri yang memang terletak bisa dikatakan dipusat kota, tetapi mayoritas latar belakang para siswa berasal dari kalangan menengah ke bawah, masih terngiang-iang dibenak kami pada saat kali pertama kami berkunjung “Ya, pantaslah anak-anaknya berprestasi, pasti yang sekolah di SDN Bubutan IV semua orang tuanya berkecukupan dan peduli dengan pendidikan” sahut kami “Mbak, SDN Bubutan IV mayoritas justru dari kalangan menengah ke bawah, mbak tahu anak yang tadi? Itu rumahnya disebelah rel kereta api, orang tuanya membuka kios kecil” jawab Ibu Budi selaku Kepala Sekolah kala itu “Lha masak ibu? Tapi bisa punya banyak prestasi? Begitu tertib, santun, suka membaca, dan membuang sampah pada tempatnya” kata kami masih meragukan “Semua itu karena pihak sekolah ingin membuat sekolah ini layaknya rumah kedua bagi mereka, membuat perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan, mendidik mereka, khusus yang membuang sampah itu perlu dua tahun untuk membudayakan, tidak mudah karena di rumah mereka tidak mendapatkan dari orang tua, sehingga mereka sangat merasa nyaman di sekolah”. Kata ibu Budi menjelaskan kembali.
Begitupun dengan proses literasi di SDN Bubutan IV tidaklah mudah, semua berproses, melalui komitmen bersama dengan stake holder terkait (Pemerintah Kota Surabaya antara lain Dinas Pendidikan, Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, Seluruh Civitas Akademik SDN Bubutan IV, Orang tua dan Wali Murid) kami berjalan bergandengan untuk menyukseskan program Surabaya Kota Literasi. Berawal dengan merevitalisasi fisik perpustakaan sesuai dengan standart nasional lalu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) para siswa melalui kegiatan literasi dengan membuat dan melaksanakan Kurikulum Wajib Baca, Membaca 15 menit di jam ke-0, Sudut Baca untuk proses pembiasaan membaca. 
Proses Learning by Doing mengiringi langkah kami dalam membangun Surabaya sebagai Kota Literasi untuk itu agar mencapai hasil maksimal kami tetap belajar dengan para ‘guru’ yang paham akan literasi. Dengan adanya SDN Bubutan IV kota Surabaya yang penuh keterbatasan kami ingin menginformasikan bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya bermuara pada jumlah dana program tetapi sinergi serta komitmen bersama. SDN Bubutan IV adalah sebuah potret from zero to hero.
Kami menggaungkan Perpustakaan sebagai Jantung Sekolah sekaligus tempat yang sangat menyenangkan bagi anak-anak, pergi ke perpustakaan dan membaca tanpa ada unsur paksaan sekalipun. Oleh karena itu semua petugas perpustakaan harus memiliki unsur kerja 5 R (Rajin, Resik, Rapi, Rawat, Ringkas) dan 5 S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan dan Santun). Setelah proses pembiasaan berhasil kami mengarahkan pada proses pembelajaran melalui Kelas Literasi Asik antara lain Membaca Cepat yang dalam prosesnya ternyata yang kami lakukan oleh beberapa pakar pendidikan lebih pas jika diistilahkan dengan Teknik Membaca, Memahami isi bacaan, Meresume, Menceritakan kembali isi buku yang telah dibaca dan Menulis buku.
Kegiatan Kelas Literasi Asik ini kami kemas sangat menyenangkan tanpa sedikitpun ada unsur paksaan, seperti yang telah diasumsikan oleh beberapa pihak dengan menemukan anak menghafal berarti diasumsikan adanya kegiatan paksaan, asumsi tersebut sungguhlah keliru. Karena kami meminta anak-anak untuk memahami isi buku yang telah dibaca tanpa ada unsur paksaan, kami ingin anak-anak mencintai literasi bukan justru menakutinya, tetapi jika pada akhirnya anak terlihat menghafal tidaklah sepatutnya jika dikatakan adanya unsur paksaan. Bisa jadi dalam proses memahami buku beberapa anak lebih menyenangkan dengan proses menghafal. Seperti yang disampaikan oleh Rezki Yuniandari, Psi., “Kemas bentuk hafalan dengan aktivitas bermain, sehingga informasi yang disimpan bertahan lama. Aktivitas menghafal juga sarat manfaat. Tentu dengan cara yang benar dan tepat”. Dengan cara yang benar dan tepat antara lain (1) Pastikan semua bentuk hafalan itu menyenangkan buat anak (2) Usahakan hafalan dikonkretkan (3) Cari situasi yang tepat (4) Lakukan secara bertahap, sedikit demi sedkit (5) Lakukan kegiatan bermain secara bersama-sama (6) Pelajari gaya belajar anak (7) Hindari Pemaksaan (8) Beri pujian saat anak mengusainya.  Kami sangat menghormati proses dialektika antara Akademisi, Pakar dan Praktisi mengenai literasi karena itu dalam melaksanakan pembiasaan dan pembelajaran mengenai literasi kami belajar dari berbagai sumber misalnya mempelajari Kelasnya Manusia, Memulai Kelas dengan Ice Breaking agar anak-anak merasa senang, Display Kelas, Story Telling atau mendongeng, mengundang para pakar untuk berbagi ilmu dll.
Surabaya sebagai Kota Literasi adalah sebuah proses, sedang berbuat dan sebuah stimulus untuk daerah-daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, semua bermuara bukan pada sebuah keraguan, ketidakpercayaan dan penilaian siapa yang lebih memprihatinkan dan siapa yang lebih hebat, tetapi bermuara pada tujuan bersama yaitu semua anak-anak Indonesia mendapatkan keadilan informasi khususnya melalui program literasi. Semoga.

PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBUAH SOLUSI UNTUK KEADILAN INFORMASI





“Nah, Kak Vega kali ini akan bercerita  mengenai biografi atau kisah hidup seseorang” sahut saya begitu antusias pagi itu. “Hore” serempak anak-anak berteriak kegirangan. “Sebelum Kak Vega bercerita ada yang tahu ini siapa?” saya memperlihatkan buku biografi Barrack Obama “Tahu” kata mereka serempak “Wah, hebat, oke ini siapa?” sahut saya semangat “Jokowi” teriak mereka penuh riang. Sontak saya terdiam. Saya ulangi kembali meyakinkan “Jokowi?” Tanya saya dengan ekspresi keraguan “Bukan Bu itu bukan Jokowi, kalau Jokowi putihan seperti foto di dinding kelas” sahut salah satu anak sambil menunjukkan foto Presiden RI Jokowi. 


Ya, pagi itu Senin 09 November 2015 saya mendapatkan pengalaman yang membekas di ingatan saya. Saya terpilih menjadi pengajar di Kelas Inpirasi Jawa Timur 2 tepatnya saya mengajar anak-anak di SDN Pacet 2 Kabupaten Mojokerto. Tidak ada yang berbeda dari anak-anak SD pada umumnya begitupun dengan keadaan sekolah sangat bersih dan bagus. Namun, ketika saya tanyakan lebih lanjut sekolah tersebut terbagi menjadi dua tempat satu. Salah satunya di rumah penduduk. Hal ini dikarenakan di sekolah utama hanya terdapat  ruang kelas. Ketika saya tanyakan mengenai ruang Perpustakaan, buku-buku untuk anak-anak selain buku pelajaran belum tersedia. Pantas saja ketika saya menunjukkan buku biografi Barrack Obama mereka sedikit asing. Padahal, anak-anak sangat antusias sekali. Seperti melihat barang mewah yang ingin sekali dimiliki. Mereka mendengarkan saya bercerita dengan antusiasnya. Hingga terlihat bersemangat ketika saya menyampaikan pesan bahwa di dunia ini semua orang mempunyai kesempatan untuk menjadi orang sukses seperti Obama menjadi Presiden Amerika. Meleburkan warna kulit yang sebelumnya tak sedikit yang mempermasalahkan. 



Setiap orang memang mempunyai kesempatan untuk menjadi orang sukses begitupun anak-anak SDN Pacet 2 selagi keadilan informasi bisa terpenuhi. Keadilan informasi bisa terpenuhi jika fasilitas perpustakaan tersedia di sekolah tersebut ataupun di sekolah-sekolah lainnya. Anak Indonesia berhak atas keadilan informasi. Lalu, menjadi tanggung jawab siapa? Tidak hanya pemerintah tetapi juga kita sebagai sumbangsih untuk generasi muda yang lebih baik.